Bola ketangkasan – Lubang Hitam Arsenal dan Manchester United

Bagi mengerti Arsene Wenger, kita perlu melihatnya dgn segi seorang sopir taksi. Cara menyetirnya tak yg terhebat oleh sering salah di dalam menangkap dekrit. Pengetahuan urusan arah jalan pun tak mutakhir sehingga acap kali ia kudu bertanya terlebih dahulu “Mau lewat mana? ” terhadap penumpang yang malangnya pula pasrah dibawa ke mana-mana.test1

Kadang jalan mengemudinya pun kadang kala mencelakakan penumpang soalnya lupa kapan harus menginjak rem. Yang ia tahu cuma mengobarkan pedal gas. Bagi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, sopir taksi yg bijak kudu tahu bagaimana jalan memilih penumpang. Ia acap lalai mengelola itu dan berakibat pada penumpang yg kabur turun dalam jalan pra membayar argo perjalanan.

Namun Wenger merupakan pekerja keras serta, meski dgn segenap kemalangan yang tak sempat luput menyertainya, pada setiap hari ia terus-menerus dapat menuntaskan bayaran. Peranan yg dikasih kepadanya gak sempat kalah ia emban. Kelompok tata usaha taksi tidak terlalu ambil pusing soal keluhan serta kritikan yang disampaikan karena jalan mengemudi Wenger yang gak lagi relevan di masa masa ini. Selama total bayaran terkabul, mereka tidak mempermasalahkan bagaimana kemampuan sopir mereka di jalan.

Taksi tempat Wenger bekerja tidak pernah mengoperasikan sasaran memenangkan pujian perusahaan taksi terbaik. Mereka hanya hirau di cashflow and balance yg bakal terus ada di pemastian tetap selama masa apa yang diminta selamanya bisa diberikan.

Bakal luar biasa susah guna mengeluarkan jika apa yg diminta sama Arsenal tiap-tiap musimnya makin daripada setaraf merasuk pada Liga Champions. Soalnya umpama kata tidak, Wenger sudah didepak dari jauh-jauh hari. Apa boleh buat, standar yang ditetapkan sama Arsenal cuma begitu serta Wenger tidak pernah gagal masuk ke Eropa.

Lupakan The Professor, sebab Arsene Wenger yakni The Chauffeur.

Tadinya saya akan menyelipkan Wenger yakni The Taxi Driver, tapi aku takut Robert De Niro akan tersinggung. Tak diantaranya Wenger, Travis Bickle gak puas pada mediokritas.

Guna film blockbuster tahun ini, Interstellar hampir tidak miliki kepribadian antagonis kecuali Dr. Mann yg diperankan oleh Matt Damon. Momen Cooper oleh Amelia sedang bergaduh hebat di planet mana mereka hendak mengangkat Endurance guna berlabuh selanjutnya, Cooper beralasan bahwa Planet Mann ialah teritori yg mesti mereka tuju sebab memberikan isyarat data yang makin menjanjikan dibanding dgn Planet Edmunds, tempat alternatif Amelia

Mereka berdua pun mengangkat Endurance ke Satelit Mann cuma untuk menemukan bahwa selama ini Dr. Mann menyalurkan data palsu serta peluang kosong tentang masa depan umat manusia, semata agar dirinya siap terselamatkan.

Belum siap dianggap bahwa laporan yang sampai Manchester United sejauh ini yakni data palsu, hanya saja mereka sudah hampir separuh musim berada di Planet Louis dan mineral pembentuk performa yang tadinya mereka pikir bakal dikasih oleh Van Gaal belum pula tampak.

Sama semacam Cooper dan Amelia yg berharap jika mereka hendak medapati planet baru yg sederajat pada bumi untuk ditinggali, United pula tadinya mengira bahwa mereka telah meraih seseorang yg akan mengeloskan sesuatu yang identik dgn era Gaib Alex Ferguson. Apa boleh buat, ekspektasi adalah asal mula dr kehampaan. Nggak sekutil fans United yang mengira bahwa The Red Devils bakal seketika kembali sebagai bakal juara Premier League. Namun, yg terjadi, dengan statistik terlebih lagi momen ini Louis van Gaal tak makin baik dr David Moyes musim lalu.